Andil Pengkotak-kotakan Peran dan Stereotip Gender Terhadap Keterwakilan Perempuan dalam Sains dan Teknologi
Oleh: Tatiana Ramadhina
Menjadi seorang perempuan, sekaligus seorang pekerja, merupakan dua peran yang seringkali terpisah dan tak jarang dianggap tidak bisa bersanding bersamaan. Pun ketika kedua peran tersebut dapat berjalan bersama-sama, kesempatan dan akses yang diterima akan cenderung terbatas pada bidang-bidang tertentu. Fenomena tersebut juga masih terjadi di Indonesia, salah satunya pada bidang sains dan teknologi. Setiap berbicara mengenai bidang yang satu ini, ada banyak hal yang akan terpikirkan dan dianggap penting. Sayangnya, perempuan belum termasuk ke dalam kelompok hal tersebut.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa tingkat partisipasi perempuan pada bidang sains dan teknologi masih sangat minim dibandingkan dengan laki-laki. Menurut data UIS, dari keseluruhan populasi dunia hanya ada 29,3% pekerja perempuan dalam bidang tersebut (UNESCO, 2019). Kurangnya keterwakilan perempuan dalam sains dan teknologi pun sesungguhnya sudah terjadi sejak di bangku sekolah, terutama pada jenjang pendidikan tinggi. Di Indonesia sendiri, jumlah perempuan yang memilih bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics di perguruan tinggi cenderung lebih sedikit dibandingkan laki-laki (Hermawati, 2018). Pun jika mereka akhirnya memutuskan untuk menekuni sains dan teknologi di perguruan tinggi, belum tentu bidang tersebut akan menjadi ranah yang kelak mereka pilih untuk berkarir.
Ada banyak alasan yang dapat menjelaskan mengapa ketimpangan gender dalam sains dan teknologi bisa terjadi. Tapi, sebelum beranjak terlalu jauh, sesungguhnya alasan-alasan tersebut begitu mudah ditemukan di keseharian kita. Hal-hal yang begitu dekat, yang kemungkinan besar tidak akan disadari sebagai suatu masalah.
Pengkotak-kotakan Peran yang Sudah Menjadi Biasa
Sejak kecil, anak-anak cenderung dibesarkan atau dikenalkan dengan kegiatan dan minat yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Orang dewasa biasanya menjalankan metode seperti itu untuk membangun kepribadian dan keterampilan anak-anak, yang mereka pikir akan menjadi sebuah bantuan untuk masa depan anak-anak mereka (Eagly, 2017). Sebagai contoh, anak perempuan akan diberikan mainan boneka atau alat masak-masakan, sementara anak laki-laki akan diberikan mainan mobil-mobilan atau robot-robotan. Anak-anak juga akan melihat dan perlahan menyadari perbedaan hal-hal yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki di masyarakat. Secara tidak langsung, mereka akan menyimpulkan bahwa jenis kelamin hingga batas tertentu, mempunyai karakter dasar yang berbeda (Eagly, 2017).
Pengkotak-kotakan seperti itu terus terjadi seiring anak-anak tersebut beranjak dewasa. Hal-hal yang awalnya hanya mereka saksikan, kemudian akan berubah menjadi hal yang mereka lakukan sehari-hari. Mereka turut menjadi bagian dari orang-orang yang melanggengkan pengkotak-kotakan peran gender tersebut, sebab hal tersebut dianggap biasa. Ketika dewasa, perempuan akan diasosiasikan dengan kegiatan-kegiatan di ranah domestik. Mereka akan dianggap hanya bertugas mengurus rumah, memasak, mengurus anak, sementara laki-laki bertugas mencari nafkah, membuat teknologi, dan seluruh kegiatan yang ada di luar rumah (Hermawati, 2018).
Kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari konstruksi sosial masyarakat. Hal ini pula yang kemudian mempengaruhi minimnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja secara umum, karena mereka diasosiasikan dengan ranah domestik. Semua yang berawal dari kebiasaan yang berangsur-angsur ini, kemudian perlahan berkembang menjadi suatu keyakinan, atau yang bisa disebut dengan stereotip. Terkhusus sains dan teknologi, terdapat keyakinan atau stereotip khusus yang berkembang di bidang ini, yang kemudian semakin membuat keterlibatan perempuan begitu minim.
Stereotip sebagai “Penentu” Partisipasi
Sains dan teknologi seringkali diasosiasikan sebagai bentuk maskulinitas, sehingga hal tersebut membuat perempuan enggan menggeluti bidang ini (Hermawati, 2018). Stereotip seperti ini membentuk identitas gender dan aturan masyarakat perihal perilaku yang cocok bagi perempuan dan laki-laki (Eagly, 2017). Seperti perempuan yang dianggap lebih emosional dan perasa, serta laki-laki yang dianggap lebih kuat dan logis. Keyakinan ini pula yang kelak menyediakan tempat akan asumsi dan diskriminasi untuk mereka yang tidak sesuai dengan aturan gender tersebut.
Stereotip gender seperti itu akan memberikan pengaruh, baik kepada orang-orang yang menerima dan melihat perempuan bekerja di bidang sains dan teknologi, maupun kepada pekerja perempuan itu sendiri. Anggapan tentang perempuan yang lebih emosional dan perasa, dapat membuat perekrut menutup kesempatan perempuan untuk bekerja dalam bidang ini. Mereka tidak menerima stereotip bahwa perempuan kuat dan sensibel, sehingga akan dinilai tidak mampu maupun tidak cocok untuk bekerja di bidang sains dan teknologi.
Lebih dari itu, stereotip masyarakat, yang terus terjadi dan berkembang, perihal bagaimana “tidak cocoknya” perempuan untuk teknologi kemungkinan akan membuat perempuan yang memiliki bakat dan potensi dalam teknologi pun terpengaruh. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan bahwa mereka seakan membenarkan stereotip tersebut, sehingga dapat berakibat pada penurunan kinerja mereka sesungguhnya (Eagly, 2017).
Keadaan ini pun belum diperparah dengan kemungkinan pelecehan yang akan diterima perempuan di tempat kerja yang mayoritas melibatkan laki-laki. Seorang insinyur perempuan yang mendatangi tempat konstruksi awalnya akan berkemungkinan besar menerima pelecehan verbal atau catcalling, maupun dilihat terus-menerus dari atas sampai bawah oleh pekerja laki-laki, sebab mereka tidak pernah melihat perempuan ada di lokasi tersebut (Rinaldi, 2020).
Pada akhirnya, minimnya keterwakilan perempuan dalam sains dan teknologi berakar dari anggapan dan stereotip yang telah melekat dalam konstruksi sosial masyarakat. Mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender jelas tidak mudah. Tapi, hal ini dapat dimulai dengan tidak pernah tunduk pada penilaian masyarakat semata, sekaligus dengan selalu memperlakukan setiap orang sebagai individu, yang lebih dari sekadar stereotip gender yang melekat pada mereka.
Referensi
Eagly, A. H. (2017, October 4). Jumlah laki-laki melebihi perempuan di bidang teknologi. Apakah ini bawaan biologis? Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/jumlah-laki-laki-melebihi-perempuan-di-bidang-teknologi-apakah-ini-bawaan-biologis-84820
Hermawati, W. (2018). Gender dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta: LIPI Press.
Hermawati, W. (2018, November 30). Gender dalam sains di Indonesia: mengapa kesenjangan penting diturunkan. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/gender-dalam-sains-di-indonesia-mengapa-kesenjangan-penting-diturunkan-106414
Rinaldi, I. (2020, May 8). Minoritas dalam Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika. Retrieved from Kompas Id: https://interaktif.kompas.id/baca/minoritas-stem/
UNESCO. (2019). Women in Science. The UNESCO Institute for Statistics (UIS).
