
Koleksi Puisi
Suar(a) Perempuan Pabrik
Oleh: bacakomasebelumtitik
Jika tentara berbaris untuk jadwal makan, kami berbaris untuk dilecehkan.
Hari ini giliran tangan, besok giliran dada, lusa giliran paha.
Katanya bapak istana sudah membuat perlindungan dalam undang-undang,
meski aku terus sangsi yang dilindungi itu perempuan atau udang?
Sebab nyatanya hari ini aku tetap mengantri dalam barisan penuh bimbang;
Jika tak datang, ibu kelaparan. Jika datang, siapa menjamin esok hari aku tak jadi ibu dari bajingan?
Tapi kami ini kan hanya dianggap sebagai penyebab naiknya angka pelecehan,
kalau penyebab naiknya warna biru dalam saham, bukankah baru bisa menjadi sorotan?
Hei tahu tidak, perempuan dalam baris terdepan itu dengar-dengar memesan baju ajaib yang bisa menghilangkan lingkar dada hingga bibir merona.
Ah tapi percuma, kali ini yang mendapat giliran adalah pantat.
Lalu perempuan di depanku ini dengar-dengar juga telah memotong habis rambut indahnya.
Ah tapi percuma, ia malah ditanya, “dada besarmu mana?” dengan tawa keras.
Lantas kini giliranku yang berdiri paling depan, sembari sekilas berpikir,
“jika menjadi pemanggul payudara sebegini sulit dan pasrah,
tahu begitu dulu aku antri penis ya”
